Batam — Ada satu hal yang saya pelajari saat berada di SMANSA. Sekolah besar ternyata bukan hanya tentang gedung, jumlah siswa, atau deretan prestasi yang terpajang di dinding sekolah. Sekolah besar adalah sekolah yang dipenuhi anak-anak muda yang berani berpikir dan berani menyampaikan gagasan.
Terima kasih, SMANSA. Kalian sudah memberi ruang bagi saya untuk berbagi pengalaman, cerita, dan semangat tentang jurnalistik serta literasi. Saya datang bukan membawa teori besar. Saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya jalani dan saya yakini: bahwa tulisan adalah jejak sejarah seseorang.
Dan hari itu, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Saya melihat semangat kalian saat mengerjakan LKPD individu. Saya melihat keberanian kalian saat maju mempresentasikan hasil kerja di depan teman-teman sendiri. Saya melihat rasa percaya diri yang tumbuh dengan kuat. Itu mahal.
Banyak orang pintar, tetapi tidak semua berani bicara. Tidak semua berani menyampaikan pikirannya di depan orang lain. Di SMANSA, saya melihat keberanian itu hidup. Yang membuat saya kagum bukan sekadar benar atau salahnya jawaban kalian, melainkan keberanian kalian berdiri, berpikir, lalu menyampaikan gagasan dengan percaya diri.
SMANSA terlalu besar untuk hanya menjadi penonton. Banyak peristiwa hebat lahir di sekolah ini. Banyak kegiatan besar terjadi di sini. Banyak siswa hebat tumbuh di sini. Tetapi semua itu akan berlalu begitu saja jika tidak ada yang menuliskannya. Karena sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar. Sejarah adalah tentang siapa yang menuliskan cerita itu.
Saya berharap suatu hari nanti lahir Tim Jurnalis SMANSA. Anak-anak muda yang hadir di setiap kegiatan sekolah, membawa kamera, buku catatan, dan semangat untuk mendokumentasikan perjalanan sekolahnya sendiri. Sebelum orang lain menulis tentang sekolah kalian, lebih baik kalian sendiri yang menuliskannya.
Dan saya ingin menitipkan satu opsi nama untuk kalian: Klinik Literasi Warkah SMAN 1 Batam, disingkat menjadi KLIWASA. Silakan kalian cari sendiri arti kata warkah. Pahami makna yang terkandung di dalamnya. Nama ini mungkin tidak terdengar hebat, tetapi sengaja saya lemparkan sebagai umpan agar kalian benar-benar berpikir tentang identitas yang akan kalian bangun sendiri.
Bayangkan jika suatu hari nanti lahir Podcast KLIWASA, Suara KLIWASA, KLIWASA TV, atau bahkan KLIWASA SMANSA. Euhh… keren juga, ya. Dan saya mulai berpikir, jangan-jangan suatu hari nanti nama itu benar-benar hidup di sekolah ini. Apakah nama ini hanya akan abadi di tulisan ini saja? Ataukah benar-benar akan kalian tabalkan di sekolah besar kalian?
Karena nama besar tidak lahir dari desain logo. Nama besar lahir dari karya, keberanian, dan konsistensi orang-orang yang menjaganya. Maka ayo segera kibarkan bendera kalian. Mulailah menulis. Mulailah mendokumentasikan sekolah kalian sendiri. Mulailah bersuara.
Dan satu hal lagi. Hari ini kita hidup di era AI. Gunakan AI dengan cerdas. AI bisa membantu merapikan tulisan, tetapi pengalaman, rasa, sudut pandang, dan kejujuran tetap harus lahir dari diri kalian sendiri. Karena tulisan terbaik selalu lahir dari manusia yang benar-benar melihat, merasakan, dan mengalami.
Ayo bersuara, SMANSA. Ayo mulai menulis.
Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kabari saya bahwa rompi Tim Jurnalis SMANSA kalian sudah siap. Kirimkan foto kalian dengan rompi kebanggaan itu dan kamera di tangan kalian. Karena jika setelah pelatihan ini tidak ada langkah nyata, maka semua yang kita lakukan hanya akan menjadi kegiatan biasa.
Maaf, kali ini saya sengaja menantang kalian. Sebab saya percaya, anak-anak SMANSA yang berani berpikir, berani menulis, dan berani menyampaikan gagasan adalah mereka yang suatu hari akan membawa perubahan.
Dan akhirnya saya sadar, hari itu bukan tentang hebatnya saya sebagai pemateri, tetapi tentang betapa briliannya peserta workshop di SMANSA. Kalian itu hebat. Tinggal satu hal lagi: benar-benar mulailah bersuara.
Salam dari Tamalatea.
Batam — Ada satu hal yang saya pelajari saat berada di SMANSA. Sekolah besar ternyata bukan hanya tentang gedung, jumlah siswa, atau deretan prestasi yang terpajang di dinding sekolah. Sekolah besar adalah sekolah yang dipenuhi anak-anak muda yang berani berpikir dan berani menyampaikan gagasan.
Terima kasih, SMANSA. Kalian sudah memberi ruang bagi saya untuk berbagi pengalaman, cerita, dan semangat tentang jurnalistik serta literasi. Saya datang bukan membawa teori besar. Saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya jalani dan saya yakini: bahwa tulisan adalah jejak sejarah seseorang.
Dan hari itu, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Saya melihat semangat kalian saat mengerjakan LKPD individu. Saya melihat keberanian kalian saat maju mempresentasikan hasil kerja di depan teman-teman sendiri. Saya melihat rasa percaya diri yang tumbuh dengan kuat. Itu mahal.
Banyak orang pintar, tetapi tidak semua berani bicara. Tidak semua berani menyampaikan pikirannya di depan orang lain. Di SMANSA, saya melihat keberanian itu hidup. Yang membuat saya kagum bukan sekadar benar atau salahnya jawaban kalian, melainkan keberanian kalian berdiri, berpikir, lalu menyampaikan gagasan dengan percaya diri.
SMANSA terlalu besar untuk hanya menjadi penonton. Banyak peristiwa hebat lahir di sekolah ini. Banyak kegiatan besar terjadi di sini. Banyak siswa hebat tumbuh di sini. Tetapi semua itu akan berlalu begitu saja jika tidak ada yang menuliskannya. Karena sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar. Sejarah adalah tentang siapa yang menuliskan cerita itu.
Saya berharap suatu hari nanti lahir Tim Jurnalis SMANSA. Anak-anak muda yang hadir di setiap kegiatan sekolah, membawa kamera, buku catatan, dan semangat untuk mendokumentasikan perjalanan sekolahnya sendiri. Sebelum orang lain menulis tentang sekolah kalian, lebih baik kalian sendiri yang menuliskannya.
Dan saya ingin menitipkan satu opsi nama untuk kalian: Klinik Literasi Warkah SMAN 1 Batam, disingkat menjadi KLIWASA. Silakan kalian cari sendiri arti kata warkah. Pahami makna yang terkandung di dalamnya. Nama ini mungkin tidak terdengar hebat, tetapi sengaja saya lemparkan sebagai umpan agar kalian benar-benar berpikir tentang identitas yang akan kalian bangun sendiri. Bayangkan jika suatu hari nanti lahir Podcast KLIWASA, Suara KLIWASA, KLIWASA TV, atau bahkan KLIWASA SMANSA. Euhh… keren juga, ya.
Dan saya mulai berpikir, jangan-jangan suatu hari nanti nama itu benar-benar hidup di sekolah ini.
Apakah nama ini hanya akan abadi di tulisan ini saja? Ataukah benar-benar akan kalian tabalkan di sekolah besar kalian?
Karena nama besar tidak lahir dari desain logo. Nama besar lahir dari karya, keberanian, dan konsistensi orang-orang yang menjaganya.
Maka ayo segera kibarkan bendera kalian. Mulailah menulis. Mulailah mendokumentasikan sekolah kalian sendiri. Mulailah bersuara.
Dan satu hal lagi. Hari ini kita hidup di era AI. Gunakan AI dengan cerdas. AI bisa membantu merapikan tulisan, tetapi pengalaman, rasa, sudut pandang, dan kejujuran tetap harus lahir dari diri kalian sendiri. Karena tulisan terbaik selalu lahir dari manusia yang benar-benar melihat, merasakan, dan mengalami.
Ayo bersuara, SMANSA. Ayo mulai menulis.
Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kabari saya bahwa rompi Tim Jurnalis SMANSA kalian sudah siap. Kirimkan foto kalian dengan rompi kebanggaan itu dan kamera di tangan kalian. Karena jika setelah pelatihan ini tidak ada langkah nyata, maka semua yang kita lakukan hanya akan menjadi kegiatan biasa.
Maaf, kali ini saya sengaja menantang kalian.
Sebab saya percaya, anak-anak SMANSA yang berani berpikir, berani menulis, dan berani menyampaikan gagasan adalah mereka yang suatu hari akan membawa perubahan.
Dan akhirnya saya sadar, hari itu bukan tentang hebatnya saya sebagai pemateri, tetapi tentang betapa briliannya peserta workshop di SMANSA.
Kalian itu hebat. Tinggal satu hal lagi: benar-benar mulai bersuara.
Semangat dan salam dari Tamalatea.
