COBA bayangkan seorang siswa jenius, nilai nyaris sempurna, langganan juara olimpiade, masa depan terbentang cerah, namun dalam sekejap semua pintu perguruan tinggi tertutup rapat. Bukan karena ia bodoh, bukan karena ia gagal belajar, melainkan karena satu hal yang sering dianggap sepele: ia pernah melukai manusia lain melalui bullying.
Inilah fakta luar biasa yang datang dari Korea Selatan. Sebanyak 298 calon mahasiswa dinyatakan tidak diterima di perguruan tinggi, bukan karena prestasi akademik yang buruk, melainkan karena rekam jejak perilaku mereka. Sekalipun mereka dikenal sebagai siswa hebat, bernilai tinggi, dan sering menjuarai olimpiade, satu catatan tentang tindakan bullying sudah cukup untuk menggugurkan masa depan akademik mereka.
Fakta ini bukan sekadar rumor. Kompas.com edisi 20 November 2025 melaporkan bahwa data tersebut diungkap langsung oleh Komite Pendidikan Majelis Nasional Korea bersama Kementerian Pendidikan Korea Selatan. Laporan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi di Korea Selatan kini bersikap semakin tegas dan tidak kompromi terhadap kasus bullying di kalangan pelajar. Riwayat kekerasan, perundungan verbal, maupun intimidasi sosial menjadi pertimbangan serius dalam seleksi mahasiswa baru.
Kebijakan ini menegaskan satu hal penting: dunia pendidikan yang maju tidak lagi menoleransi kecerdasan yang melukai kemanusiaan. Perguruan tinggi tidak ingin mencetak lulusan yang hanya pintar, tetapi miskin empati dan berpotensi menjadi masalah di masyarakat.
Bullying bukan candaan, bukan tradisi senioritas, dan bukan hal sepele. Luka akibat bullying sering kali tidak terlihat secara fisik, tetapi dapat merusak mental, menghancurkan rasa percaya diri, bahkan meninggalkan trauma jangka panjang. Oleh karena itu, Korea Selatan memandang bahwa karakter seseorang sama pentingnya dengan prestasi akademik.
Siswa-siswi SMAN 14 Batam yang saya banggakan, kisah ini adalah cermin bagi kita semua. Sekolah bukan hanya tempat mengejar angka, ranking, dan piala, tetapi ruang pembentukan kepribadian. Di sekolah, kita belajar tentang rasa hormat, empati, kejujuran, dan tanggung jawab sebagai manusia.
Prestasi memang membanggakan, tetapi akhlak adalah mahkota sesungguhnya. Kepintaran dapat membuka pintu kesempatan, namun perilaku dan sikaplah yang menentukan apakah kita layak melangkah lebih jauh. Dunia hari ini membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga luhur bersikap.
Semoga kisah dari Korea Selatan ini tidak berhenti sebagai berita luar negeri, melainkan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Karena ketika nilai dan piala suatu hari akan usang, yang tetap hidup adalah jejak kemanusiaan yang kita tinggalkan. Menjadi pintar itu pilihan, tetapi menjadi manusia adalah kewajiban. Dari sinilah harapan tentang generasi yang beradab dan berkarakter akan terus bertumbuh.
Tamalatea, 27 Desember 2025
